Selasa, 02 Februari 2016

KOTA (RINDU) #3

Rasanya menyenangkan sendirian, tidak harus tersenyum dan tampak gembira. Lega memandang murung keluar jendela, membiarkan kesedihan mengalir. Ketika harus memikirkan esok pagi, kota ini terasa sepi, tak ada kebisingan yang familiar. Listrik yang menjadi sumber cahaya ketika malam pun mati. Tapi aku masih dapat melihat kunang-kunang di kota ini, yang membuatku terkejut tidak hanya satu kunang. Berapa jauhnya yang aku tempuh, aku membayangkan suasana ini sebelumnya. Tapi saat ada di dalamnya, aku bisa merasa seluruh jiwa dan ruhku tersenyum sekian detik. Bukan ini!





#30HariMenulisSuratCinta

POS (KIRIM) JODOH #2

Untuk kamu yang masih tersembunyi.

Rasanya rangkaian katapun sulit aku utarakan untukmu, sampai membagi diri menjadi tubuh dan jiwa, tetap tak bisa menjelaskan rasaku kepadamu. Sebetulnya, aku yakin sekali bahwa kamu sama dengan aku. Aku yakin sekali bahwa kamu pun masih mencari. Ah, sudahlah. Aku tak perlu repot-repot membentuk kata-kata baru untuk mencetuskan gagasanku. Untuk dunia ide tentang hubungan kita dan tak usah capek-capek siang malam mengumpulkan kata. Karena dengan kosakata semacam 'Jodoh' sudah kurasa cukup untuk mengamati lapis-lapis perasaanku kepadamu.

#30HariMenulisSuratCinta

Minggu, 31 Januari 2016

Musuh Dalam Kenangan Terbaik #1

Kamu...
apa kabar? meski tak lagi nampak dan tak lagi bersua, aku masing selalu mengenangmu.

Aku masih menyayangimu meski terluar dari diriku menampakkan ketidak senanganku padamu, andai dulu kamu percaya padaku. Mungkin sampai kini kita masih akan bersahabat, kau yang selalu membuat hariku dulu penuh warna juga tantangan dan kisah penuh drama nan melankolis. Karena kamu yang pertama, temanku sahabatku saudaraku. Mereka bilang kita kembar namun tak serupa, kita sama namun berbeda. Kamu yang begitu terbuka serta menyenangkan.

Apa kamu mengingatku? Disini di dalam hatiku, aku masih sangat mengingatmu, ingatkah kamu? Saat itu kamu menangis dalam pelukku dan aku menangis melihatmu bersedih seperti itu. Bukankah aku akan selalu ada untukmu, untuk mendengar kisahmu, untuk berbagi rasa sedihmu bukan hanya ceriamu. Kau mungkin merasa kecewa dengan kejadian saat dimana, kau melihat pesan di handphone-ku waktu itu. Aku sendiri takut menjelaskan, karena untuk pertama kalinya dalam persahabatan kita, kau begitu murka padaku.

Ingatkah kamu? Saat dimana pertama kali kita berteman, aku mengingatmu sebagai seorang gadis penuh percaya diri, sedang aku hanya gadis pemalu. Kamu yang pertama mengenalkan diri, menghampiriku untuk makan di kantin bersamamu. Waktu itu kau makan sangat banyak, badan mungil dengan selera makan yang hebat. Mungkin aku menyukai dari saat itu, kau punya selera yang sama denganku. Terima kasih karena kamu, aku memiliki kenangan terbaikku saat sekolah dulu. Aku memiliki pengalaman terhebat saat itu dan karena kamu juga aku pun belajar tentang kehidupan, untuk tumbuh tetap percaya diri. Meski untuk tetap tegak, seseorang harus berusaha keras. Kehidupan ini tak selamanya berpihak pada kita, aku akan selalu mengingat bahwa percaya pada diri sendiri adalah hal pertama yang akan membantumu tetap tegak.

Meski kita tak lagi sama seperti dulu, semoga cinta dan kasih yang dulu sempat kita miliki. Akan membawamu serta diriku bertemu lagi.

Tertanda untuk seorang yang aku benci namun dalam jiwaku aku masih menyayangi. TERIMA KASIH untuk kisah dan pengalaman indah kita dulu.

Jumat, 01 Januari 2016

DIA #FOTO

'HAPPY NEW YEAR'

Pukul 00.00 tepat pergantian hari dan tahun, orang-orang menyebutkan resolusinya dalam hati mereka. Dan beberapa orang lainnya menikmati tidur mereka di tempat tidur yang nyaman. Aku membuka sosial media facebook-ku dan karena sudah menjadi keharusan tahun baru akan hujan dengan menarik selimutku lebih tinggi, dan menempatkan notebook lebih dekat aku men-klik album foto facebook ku malam ini.

"Ah ini foto 4 tahun lalu saat di kelas tiga SMU, masih dengan gaya rambut poni tirai yang hampir menutupi mata, memegang pundaknya dengan canggung, aku ingat ini adalah satu-satunya fotoku dengannya..." Melihatnya lagi, jadi mengingatkanku sesuatu...

"Belum tidur?"

"Hemm..."

"Ayam bakarnya sudah jadi, kakak mau ikutan makan nggak di luar? Kalau enggak porsi punya kakak buatku aja ya!"

"Enak aja...!!"

Melocat dari dudukku di sofa ruang tengah, dan mendapati semuanya sudah siap, papa mendekat ke arahku membawa dua piring besar di tangannya, "Kakak kita makannya di dalam rumah saja, di luar udaranya jadi dingin."


Cepat sekali waktu berganti...

Minggu, 27 Desember 2015

Jatuh Cinta dengan Orang yang Salah



Menyoal jatuh cinta pasti semua orang yang sudah akhir baligh sudah pernah dan mungkin baru merasakannya saat ini, sekarang saja anak-anak yang masih di bangku sekolah dasar banyak yang merasakan jatuh cinta atau yang cocok buat mereka sebutannya cinta monyet. Bahagia kalau kita jatuh cinta ke orang yang juga jatuh cinta sama kita, tapi gimana kalau aku sudah terlanjur jatuh cinta tapi orang yang sudah bikin aku jatuh cinta ini orang yang salah orang yang enggak seharusnya aku cintai.

Kembali ke masa SMA-ku yang penuh warna dan penuh kejadian, masa dari yang cuman jadi baper'nya sahabat buat bohong ke pacarnya kalau lagi main bareng sama aku, padahal orangnya jalan sama cowok lain. Atau terseret-seret sampai ruang BK gara-gara salah satu mantan pacar sahabat gebuk-gebukan sama guru bahasa inggris dan aku sebagai sahabat dekat tersangka penyebab keributan yang walaupun sekedar jadi saksi cinta mereka yang kandas #eaakk~ merasa panas dingin karena untuk pertama kalinya sebagai siswa yang selama 2 tahun di sekolah enggak pernah masuk dan berurusan dengan ruang BK harus masuk dan bersaksi, sudah macam di pengadilan. Tapi dari ke semua cerita pembuka itu cerita cintaku juga tak selancar mantan-mantan pacar sahabatku.

AKU JATUH CINTA, tapi cintaku salah jatuhnya ke orang yang cuman main taruhan buat bisa macarin aku.

Begini cerita si mantan ke aku, beberapa hari setelah tangisan di hari berhujan dan mendung seperti mendung di hati yang aku rasakan saat itu. Pacar yang sekarang jadi mantan, "Ada yang mau aku omongin."

"mau ngomong apa?" balasku masih sakit hati tapi masih berharap penjelasan.

"maaf sebelumnya, aku terpaksa putusin kamu kemarin."

"Alasan apalagi? Kalau kamu jujur, aku bisa pertimbangin."

"Aku sama Maul ada perjanjian dulu, dia mau balas kamu, aku sebagai temannya cuman ikutan aja buat bantuin dia." Maul ini mantan pacarku di kelas satu, kami pacaran backstreet jadi waktu itu aku jadian sama si Maul enggak niat-niat banget. Jadi waktu jadian dan putus pun cuman ada 2 orang temannya dan satu teman aku yang tahu, teman sekelas enggak ada yang tahu. Setelah berkirim pesan ini aku cuman bisa cengo dan dalam hati oke, dia sukses bikin aku patah hati dan mantanku si Maul sukses balas dendamnya.

Cerita masa SMA-ku dengan beberapa bumbu cinta yang enggak berjalan lancar, lain hari jangan lagi pacaran sama teman mantan, siapa tahu si mantan ada yang masih enggak terima dengan berakhirnya hubungan.



“Postingan ini dibuat
untuk diikutsertakan
dalam kompetisi
book giveaway
Amora Menolak Cinta
by Rainy Amanda di
blog Racauan Manda
(mandhut.wordpress.com)
[23 Des 2015 – 31
Des 2015]”

Sabtu, 19 Desember 2015

Resensi+Review PULANG By Tere Liye





Pengarang :
TERE LIYE

Pulang adalah buku
pertama yang aku beli
setelah menempuh waktu 6
jam yang penuh
perjuangan, karena tempat
tinggal yang jauh dari pusat
kota provinsi. Judul PULANG
dan sinopsis di cover
belakang buku ini yang
akhirnya memantapkan aku
membawa pulang buku ini.

"Aku tahu sekarang, lebih
banyak luka di hati bapakku
dibanding di tubuhnya.
Juga mamakku, lebih
banyak tangis di hati
Mamak dibanding di
matanya."

Sebuah kisah tentang
perjalanan pulang, melalui
pertarungan demi
pertarungan, untuk
memeluk erat semua
kebencian dan rasa sakit.



---
Pertama membaca sinopsis
singkat tersebut aku
langsung berfikir, "Ah, ini
buku tentang keluarga.
Yang juga bisa di baca
Mama dan Adikku."
Setelah berkutat dengan
beberapa buku lain saat itu
karena bugdet yang pas-
pasan juga. Akhirnya, buku
Tere Liye PULANG inilah
yang untuk pertama kalinya
aku punya dari sekian
banyak buku Tere Liye yang
sudah di terbitkan.
Tere Liye di bukunya ini,
PULANG memberi
gambaran tentang sosok
Bujang anak dari sebuah
tempat bernama Talang,
Lereng Bukit Barisan daerah
Sumatera. Bujang "si Babi
Hutan" yang bernama asli
Agam sebagai karakter
central di sini adalah sosok
yang keras kepala di usia
muda, hanya ingin menjadi
tukang pukul seperti
Bapaknya dulu, mungkin
adalah kekagumannya
untuk Bapaknya. Seorang
anak yang ingin tahu apa
pekerjaan Bapaknya dulu.
Tauke Besar adalah kepala
sebuah klan (Keluarga
Tong) jika tidak bisa disebut
mafia. Berambisi
memajukkan posisi
keluarganya sampai dunia
internasional. Memiliki
usaha ilegal maupun legal,
salah satu penguasa
shadow economy di
Indonesia. Dialah yang
kemudian menjadi bapak
angkat Bujang. Yang
mendukung kesuksesan
Bujang.
Beberapa karakter lain yang
ada adalah Kopong guru
yang mengajari Bujang
caranya berkelahi, Salonga
sang guru menembak dan
Guru Bushi seorang samurai
yang melatih Bujang
menggunakan pedang.
Tere Liye tidak lupa
memberikan bumbu
romansa di buku ini, yaitu
cerita cinta penuh
perjuangan Bapak Mamak
Bujang yang meski terlihat
menyedihkan kisah
cintanya tapi pada akhirnya
cinta sejati akan selalu
dapat berjuang sampai
akhir hayat.
Banyak kalimat-kalimat
menyejukkan dan pelajaran
hidup dari semua karakter
di buku PULANG. Kerasnya
hidup para karakter orang-
orang berpandangan
sempit, iri dan juga ambisi-
ambisi yang kadang jika tak
terkontrol dapat
menjadikan keburukan
bukannya kebaikkan.
Aku menemukan di buku ini
di ceritakan dengan sudut
pandang orang pertama
yang seharusnya terbatas,
penggambaran seluruh
kejadian yang ada malah
mengambil lebih dari yang
seharusnya dapat di
ceritakan orang pertama.
Apakah ini kesalahan kata
yang kurang atau lebih di
halaman 314 paragraf
terakhir 'Melihat kau datang
dengan alas kaki dengan
tubuh penuh luka, saat itu
seluruh kenangan atas
Samad memenuhi kepala.'

Dan karakter lain yang tidak
kalah penting dalam buku
ini...
"Bagaimana mungkin kau
akan menang? Kau sejak
kecil dimanjakan Kopong,
dia takut sekali anak
kesayangan Tauke Besar
tergores. Sedangkan aku,
sejak kecil bersahabat
dengan bahaya dan
kematian. Kau hanya dilatih
lari cepat oleh Kopong
ditempat yang aman
sentosa, sementara aku
hidup mati belajar
meloloskan diri dari kejaran
pembunuh bayaran. Kita
tidak pernah setara, Bujang.
Kau bukan tukang pukul,
kau hanya orang yang tahu
berkelahi dan kebetulan
pintar. Kau lemah, kau tidak
secepat dan sekuat yang
kau banyakan."
Di sini Basyir karakter lain
yang awalnya hanya
sampingan menjadi
karakter yang kuat yang
menjadi kan PULANG lebih
menegangkan. Dia sahabat
dan seseorang yang
memupuk benci untuk
keluarga Tong.

Tuanku Imam, seorang
ustad dan paman...
"Seperti yang kubilang tadi,
hidup ini perjalanan, Agam.
Kumpulan dari hari-hari. Di
salah satu hari itu, di hari
yang sangat spesial, kita
dilahirkan. Kita menangis
kencang saat menghirup
udara pertama kali. Di salah
satu hari lainnya, kita
belajar tengkurap, belajar
merangkak, untuk
kemudian berjalan. Di salah
satu hari berikutnya kita
bisa mengendarai sepeda,
masuk sekolah pertama
kali, semua serba pertama
kali. Dan kini kita penuh
kenangan masa kecil yang
indah, seperti matahari
yang terbit."
"Ketahuilah, Nak, hidup ini
tidak pernah tentang
mengalahkan siapa pun.
Hidup ini hanya tentang
kedamaian di hatimu."
Dan di halaman terakhir
kalimat yang di ucapkan
Bujang yang akhirnya
menemukan Tujuannya,
"Mamak, Bujang pulang hari
ini. Tidak hanya pulang
bersimpuh di pusaranmu,
tapi juga pulang kepada
panggilan Tuhan. Sungguh,
sejauh apa pun kehidupan
menyesatkan, segelap apa
pun hitamnya jalan yang
kutempuh, Tuhan selalu
memanggil kami untuk
pulang. Anakmu telah
pulang."

Terakhir salah satu yang
membuatku tertawa di
buku ini adalah saat Bujang
chatting dengan Yuki dan
Kiko profil name'nya adalah
Littlepig. Haha... #cute :)

Kamis, 27 Agustus 2015

Pendataan RKP 2015

Hari ini saya mulai penyusunan Rancangan Kegiatan Pembangunan Desa, masih perlu banyak aspirasi dari penduduk desa yang belum tersaring maksimal. Dengan luas daerah +230000 Hektar mengumpul parah tokoh masyarakat di rasa memang cukup menjadi kendala.